Kerasukan Setan

Perbincangan sore itu makin pelik.

"Kalau bekerja untuk mengejar harta, maka jadilah koruptor. Titik!" Tegas lelaki bermata besar yang bola matanya nyaris keluar dari porosnya.

"Apa hidup tidak perlu uang? Makananmu, pakaian yang kamu kenakan atau rumah yang kamu tinggali. Dari mana semua itu jika bukan dengan uang?" Sahut lelaki bertubuh tambun tak mau kalah.

"Ambil ini... ambil ini...!" Pekik lelaki bermata besar meletakan segepok uang di atas meja diam diantara mereka.

"Kamu menyakiti harga diriku. Aku bukan pengemis! Aku hidup dengan guyuran keringat, kerja keras dengan otak!"

BRAAAKK!!!

Lelaki bertubuh tambun tidak bisa lagi menahan amarahnya. Meja diam itu dipukulnya keras-keras, hingga berhamburan uang di atasnya.

Lelaki bermata besar hanya tersenyum mengejek. Menyaksikan partner debatnya telah marah memberi kepuasan dalam hatinya.

"Apapun hasilnya, kamu telah marah. Dan terbukti akulah pemenangnya. Hahaha.... Sebaiknya aku pulang merayakan kemenangan ini."

Tanpa mengambil sepeserpun uang yang berhamburan, lelaki bermata besar meninggalkan kursinya. Pergi menuju pintu keluar restoran diiringi pasang-pasang mata penasaran.

Lelaki bertubuh tambun semakin gusar. Nafasnya menderu bagai ombak ganas ingin mencumbu daratan. Tidak disia-siakannya waktu. Langkahnya memburu, mengejar jejak langkah lelaki bermata besar. Tidak dihiraukannya pasang-pasang mata yang makin penasaran.

Dalam hitungan menit, mereka telah bertemu. Beradu pandang. Bagai air dan api kedua aura mereka saling beradu. Tanpa takut. Tanpa ragu.

Sejurus kemudian bogem kencang mendarat bebas di pipi kiri lelaki bermata besar. Aliran darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Tersungkur dia di terotoar jalan, membuat orang di sekitarnya menjerit ketakutan.

Tidak kehilangan amarah. Sekali lagi ditarik kencang kerah baju sambil diangkatnya berdiri, lelaki bertubuh tambun melayangkan pukulannya lagi. Berkali-kali dan tak kunjung amarahnya berhenti. Beberapa orang yang ingin melerai terdorong keras menjauh. Tidak ada yang bisa menghentikan murka dari sebuah amarah kehilangan harga diri.

Sampai bunyi peluru terdengar mengudara. Lelaki bertubuh tambun tersadar, lelaki yang kerahnya ditarik sekuat tenaga telah diam tak berdaya. Bukan hanya darah segar mengalir dari lubang hidung tetapi juga dari mulut dan telinganya. Biru lebam menghias setiap inci wajahnya.

Lelaki bertubuh tambun melepas cengkramannya. Membiarkan tubuh lelaki bermata besar jatuh berdebam bersama dengan itu tubuhnya terseok berlutut, gemetar, bergidik atas setan mana yang merasuk tubuhnya.

Kedua lengannya pasrah terborgol. Air matanya berlinang deras.

"Apa yang sudah aku lakukan padamu, Sahabatku?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EOA GOLD, Investasi Emas Dunia Akhirat

Mengenal Sereal Umbi Garut, Manfaat, dan Cara Mengonsumsi

9 Alasan Memilih Rice Cooker Digital Low Sugar Sekai